Wenger Disarankan Untuk Tiru Kinerja Jose Mourinho

Seiring dengan keputusan Arsenal mempertahankan Rezim Arsene Wenger untuk dua tahun ke depan, manajer asal Prancis terus mendapat tuntutan dari sejumlah pihak untuk mengakhiri puasa gelar Premier League. Bahkan, legenda klub , David Seaman menyarankan sang Manajer untuk meniru kinerja pelatih klub rival, Jose Mourinho.

Seperti diketahui, sempat terdengar desas desus isu pemecatan Arsene Wenger dari kursi pelatih Arsenal di awal tahun ini. Isu tersebut tak terlepas dari desakan para fans agar manajer asal Prancis mengakhiri Rezimnya di Emirates. Tentu saja, desakan itu juga berdasar dari serangkaian hasil buruk yang didapat Alexis Sanchez dkk, dengan tersingkir dari 16 besar Liga Champions, gagal finish di atas Tottenham Hotspur, gagal mendapatkan tiket ke ajang Liga Champions Eropa musim depan dan sederet hasil buruk lainnya.

Namun, semua isu itu seolah kandas bak kemarau panjang yang terhapus hujan sehari, setelah juru taktik asal Prancis membawa timnya kembali menjuarai trofi Piala FA akhir pekan kemarin. Arsenal mengalahkan Chelsea di final di Wembley dengan skor akhir 2-1. Usai mengemas trofi tersebut, Wenger pun kembali dipertahankan Arsenal dengan perpanjangan kontrak berdurasi dua tahun.

Sedangkan Jose Mourinho yang justru baru tiba di Old Trafford pada musim panas kemarin berhasil mempersembahkan tiga gelar, antara lain FA Community Shield, PIala Liga dan Liga Europa. Berkat trofi terakhir juga, mereka mengamankan satu tempat di ajang Liga Champions Eropa musim depan.

Menurut Seaman, Wenger harus meniru Mourinho, sebagaimana pelatih Portugal tidak mengedepankan keindahan dalam bermain, melainkan hasil akhir.

“Mourinho pergi ke Manchester United dan memenangkan tiga trofi musim lalu, Oke, mereka tidak memainkan sepakbola terbaik, tapi ini bukan sepakbola negatif. Ini membangun dalam bertahan dan itulah yang kami lakukan di Arsenal sejak lama. Kami harus kembali ke sana. ”

“Ketika saya pergi ke Arsenal, kami tidak memainkan sepakbola paling atraktif tapi ini sepakbola efektif dan memenangkan trofi. Bagi saya, ini soal memenangkan trofi.” katanya kepada TalkSport.

Mbappe Dinginkan Rumor Transfer ke Real Madrid

Dijelaskan sosok berusia 18 tahun, bahwa pernyataannya beberapa waktu lalu tentang keinginan bekerja dengan Zidane, tidak lain adalah saat sang legenda masih aktif bermain dulu, bukan saat yang bersangkutan sudah menjabat sebagai pelatih.

Bomber muda Prancis, Kylian Mbappe, berusaha untuk meredam rumor transfernya menuju Raksasa La Liga Spanyol, Real Madrid yang dipercaya akan terealisasi pada kesempatan bursa transfer musim panas tahun ini. Mbappe juga mengaku akan meminta saran kepada Didier Deschamps terkait masa depannya.

Kylian Mbappe, 18 tahun, musim ini memang sukses menyita sebagian besar perhatian klub-klub raksasa Eropa lewat torehan performa gemilangnya bersama dengan klub Ligue 1 Prancis, AS Monaco. Dengan Torehan 16 gol nya di semua ajang, Mbappe mampu mengantarkan AS Monaco menjuarai ligue 1 Prancis untuk pertama kali sejak tahun 2000 silam. Tak hanya itu, catatan tersebut juga yang mengantarkan tim arahan Leonardo jardim sampai ke babak semifinal Liga Champions Eropa.

Klub-klub seperti Real Madrid, Manchester City, Manchester United, Arsenal, dan Bayern Munchen dipercaya begitu mendambakan servis Mbappe. Namun, indikasi lebih menguatkan kepindahan sang pemain Prancis menuju Real Madrid, sebagaimana Mbappe yang mengaku begitu mengagumi sosok Zinedine Zidane, yang kini menjabat sebagai manajer Los Blancos.

Tapi, lewat klarifikasi terbarunya, yang bersangkutan menegaskan bahwa dia ingin bekerja dengan Zidane, saat sang legenda Prancis masih aktif sebagai pemain, bukan sebagai pelatih.

“Saya memimpikan Zidane sebagai pemain, bukan pelatih, Zidane adalah pemain yang membuat saya bermimpi dan masih membuat saya bermimpi ketika saya menonton videonya. Sebagai pemain tentu sangat berbeda, ia pelatih hebat yang dengan cepat meraih hasil dan terus tumbuh.” tegas Mbappe.

Lebih lanjut, pemain berusia 18 tahun itu mengaku akan meminta saran dari pelatih Timnas Prancis, Didier Deschamps, terkait dengan pertimbanga masa depannya.

“Saran Deschamps dipertimbangkan. Itu tidak akan menuntun pilihan saya, tapi saya akan mempertimbangkannya.” Sambungnya.

Setelah CR7, Bale Juga Dibuatkan Patung oleh Seniman Ini

Usai sebelumnya berhasil jadi bahan perbincangan dan pergunjingan dunia terkait dengan patung Cristiano Ronaldo ciptaannya, seniman asal Portugal, Emanuel Santos kembali menciptakan patung pemain Real Madrid yang lain, Gareth Bale. Lantas, bagaimana rupa Bale dalam gambaran Emanuel lewat sebuah patung perunggu ?

Seperti diketahui, beberapa waktu lalu, Emanuel Santos memang dipercaya untuk membuat patung wajah Cristiano Ronaldo , yang nantinya akan dipajang di bandara Internasional Cristiano Ronaldo di Madeira, Portugal, seiring dengan bintang Real Madrid yang namanya diabadikan menjadi nama bandara di tanah kelahirannya tersebut.

Saat patung diperlihatkan, bukan sanjungan yang didapat Emanuel Santos, melainkan bully dan pergunjingan. Bagaimana tidak? Hasil karyanya sangat tidak mirip dengan wajah Cristiano Ronaldo, bahkan melenceng jauh dan terkesan sangat lucu, sehingga jadi perbincangan viral para netizen di seluruh dunia. Tak hanya itu, netizen indonesia kerap membandingkan patung Cristiano Ronaldo dengan patung Harimau Cisewu yang sempat viral.

Nah, uniknya, setelah patung Ronaldo tersebut kali ini, seolah tidak menyerah untuk berkarya karena bully-an tersebut, Emanuel Santos kembali membuat patung dengan model pemain sepakbola lainnya. Kali ini, rekan satu tim Cristiano Ronaldo di Real Madrid, Gareth Bale, yang diabadikan Emanuel Santos lewat karyanya dari bahan perunggu.

Patung Bale nantinya akan dipajang di depan Stadion Millennium Cardiff, Wales. Stadion ini akan memanggungkan laga final Liga Champions antara Real Madrid dan Juventus pada Minggu (4/6) dini hari WIB. Wales sendiri adalah negara dari mana Bale dilahirkan.

Patung Bale ini dibuat dengan bahan perunggu seberat 40 kg. Santos menghabiskan waktu 246 jam untuk menyelesaikan patung dengan biaya pembuatan senilai 25 ribu pounds ini.

Jika dliihat sekilas, patung Gareth Bale ini kurang lebih sama dengan patung Cristiano Ronaldo, sepertinya melenceng dari wajah asli pemain Wales tersebut. Bagaimana menurut anda ?

Zinedine Zidane Tegaskan Komitmen di Real Madrid

Manajer Zinedine Zidane, mengungkapkan rasa cinta dan komitmennya bersama dengan Real Madrid. Hal ini diutarakan Zidane, menjelang berlangsungnya partai Final Liga Champions Eropa, dimana skuat arahannya akan berhadapan dengan Juventus di Cardiff Stadium.

Sebagaimana diketahui, Zidane mulai menukangi Klub sejak Januari 2016 lalu, menggantika Rafael Benitez yang didepak dari kursi pelatih. Awalnya dia diragukan untuk bisa membawa Real Madrid berprestasi, mengingat sebelumnya sang legenda klub belum pernah menukangi klub manapun sebelumnya. Namun, Zidane berhasil membungkam para peragu, dengan membawa Real madrid meraih trofi Liga Champions Eropa.

Sedangkan musim ini, yang merupakan musim keduanya, Zidane mampu membawa Madrid meraih titel La Liga Spanyol dan akan kembali berlaga di final Liga Champions Eropa. Namun, faktanya juga, belum ada kontrak baru yang diberikan pihak Real madrid kepada sang manajer, padahal kontraknya sekarang hanya akan membuatnya bertahan sampai tahun depan.

Meski demikian, Zidane sama sekali tidak ragu untuk tetap bertahan di Santiago Bernabeu, karena kecintaanya terhadap klub La Liga tersebut.

“Memang, saat ini saya hanya punya kontrak untuk satu tahun ke depan, tapi itu tidak masalah, saya akan bertahan di klub ini. Namun tentu saja, dalam sepakbola, masa depan anda akan ditentukan oleh apa yang terjadi di atas lapangan,”

“Saya pikir klub senang dengan apa yang kami lakukan dan saya hanya peduli pada itu. Masa depan: hanya Sabtu ini dan tidak ada yang lain. Saya memiliki DNA Real Madrid, itu sudah pasti. Ini rumah saya. Semua orang selalu menyayangi saya dan saya selalu membela nilai-nilai klub ini.

“Saya mengalami hal-hal spektakuler dengan klub ini sebagai pemain, asisten pelatih dan pelatih kepala. Saya selalu menjadi fan Real Madrid karena klub ini hidup saya. ”

“Saya menikmati momen ini karena saya tahu suatu hari ini akan berakhir. Saya ada di puncak pekerjaan dan hampir melakukan sesuatu yang luar biasa, tapi saya tidak berpikir meninggalkan jejak penting dalam sejarah klub ini. Kami bekerja keras dan itu semangat tim.” kata Zidane kepada reporter.

Griezmann Kembali Buka Suara Perihal Masa Depannya

Penyerang 26 tahun milik Atletico Madrid, Antoine Griezmann, kembali buka suara perihal desas desus masa depannya yang terus menggema lantang di sejumlah Media Eropa dalam beberapa pekan terakhir ini. Dikatakan sang pemain Prancis, bahwa dia bahagia di Atletico, namun tak sepenuhnya menutup pintu bagi klub lain untuk merekrutnya.

Sebagaimana diketahui, penyerang Internasional Prancis tersebut memang beberapa kali dikaitkan dengan rumor kepindahan menuju Manchester united. Bahkan, sang pemain sendiri sempat berujar bahwa peluangnya untuk membela tim besutan Jose Mourinho itu sebesar 60 persen. Namun sejauh ini tidak ada kesepakatan yang tercapai, sehingga isu kepindahannya masih jadi tanda tanya besar.

Tak hanya itu, tentang apakah dia akan bertahan di Atletico Madrid juga masih belum jelas, namun Griezmann sendiri mengungkapkan bahwa agen transfernya tengah berbincang dengan pihak klub guna membahas masalah ini. Eks Real Sociedad mengaku masih bahagia di Atletico Madrid, tapi tidak menutup kemungkinan untuk hengkang.

“Saya baik-baik saja di klub saya. Agen saya sedang bicara dengan Atletico, kita akan melihat apa yang akan terjadi. Saya akan membuat keputusan pada musim panas ini. Seperti yang saya katakan, saya bahagia di sini. Saya sudah bicara dengan pelatih saya, Koke dan [Diego] Godin. Semua terserah presiden [Atletico]. Kita akan melihat apa yang akan terjadi,” ungkap Griezmann pada Minuto 0.

Antoine Griezmann sendiri didatangkan Atletico Madrid dari Real Sociedad pada bursa transfer musim panas tahun 2014 silam. Dalam dua musim terakhir ini, sang pemain mencatatkan performa yang gemilang, membantu Atletico Madrid dalam melangkah ke final Liga Champions Eropa musim lalu. Namun demikian, fakta bahwa klub la Liga Spanyol tak bisa memenangkan gelar apapun membuat sang pemain Prancis merasa gerah.

Sedangkan Manchester United dipercaya telah menerima mandat dari pelatihnya, Jose Mourinho untuk mendatangkan pemain Prancis pada kesempatan bursa transfer musim panas ini.

Ketimbang Bale, Allegri Lebih Waspadai Isco

Perdebatan tentang siapakah antara Gareth Bale atau Isco yang akan diturunkan manajer Zinedine Zidane sebagai starter dalam pertandingan final Liga Champions Eropa akhir pekan ini begitu sering terdengar. Yang terbaru, pelatih Juventus, Massimiliano Allegri turut dimintai pendapat, dan secara pribadi, sang manajer memilih Isco.

Seperti diketahui, gareth Bale baru saja pulih dari cedera yang sempat membuatnya absen di banyak pertandingan pada kampanye musim 2016/17 ini, dengan pulihnya winger cepat asal Wales, Zinedine Zidane berpeluang menurunkannya sejak menit pertama di Cardiff nanti.

Tapi di lain sisi, Zidane dibuat dilema, karena Isco, yang selama ini menggantikan peran Bale di atas lapangan, tampil moncer. Tidak bisa disangkal bahkan fakta bahwa pemilik nama lengkap francisco Roman Alarcon tersebut memegang kontribusi yang cukup besar dalam sukses Los Blancos dalam memenangkan tiket ke babak final Liga Champions Eropa, dan meraih trofi La Liga Spanyol beberapa waktu lalu.

Tak heran jika perdebatan siapa yang lebih lantas bermain di final nanti sejak menit pertama terus mengemuka. Tak haya dari para pemain Real Madrid, pelatih Juventus, yang akan jadi lawan Los Blancos di FInal nanti, Max Allegri juga mendapati pertanyaan yang sama.

Secara pribadi, ALlegri menyebut keduanya punya kualitas yang sama bagus, tapi Isco dianggap punya teknik yang lebih baik ketimbang Pemain Wales.

“Madrid adalah klub yang memiliki grup pemain penting di luar starting XI mereka, seperti Asensio dan Morata, Casemiro telah memberi mereka banyak keseimbangan. Jika Bale bermain, Los Blancos akan memiliki kedalaman lebih dalam, Isco jauh lebih teknis,” tutur Allegri seperti dilansir oleh AS.

Sebenarnya, Allegri sendiri beberapa kali disebut sangat tertarik pada sosok berusia 24 tahun asal Spanyol tersebut. Namun upayanya merekrut sang pemain dalam beberapa musim terakhir ini selalu gagal, karna Isco tidak berniat untuk meninggalkan Santiago Bernabeu.

Francesco Totti Tak Layak Disebut Sebagai Legenda

Francesco Totti, Legenda AS Roma dan sepakbola Italia ini telah resmi meninggalkan Stadio Olimpico dengan laga kontra Genoa akhir pekan kemarin yang menjadi laga perpisahan bagi sang Kapten. Namun, belum lama ini muncul pendapat dari salah seorang mantan pemain Prancis, Christophe Dugarry, yang mengklaim bahwa Totti tidak layak disebut sebagai Legenda.

Sosok berusia 40 tahun tersebut memulai debutnya di tim senior AS Roma sejak tahun 1992 silam . Selama dua tahun mengenakan kostum Gialorossi, Totti telah mengemas lebih dari 300 gol di semua ajang dari total lebih dari 700 caps. Sepanjang periode tersebut , Totti sukses mempersembahkan sejumlah gelar, termasuk satu trofi Scudetto, dan lebih dari delapan kali membawa Roma finish sebagai runner up Serie A.

Namun, fakta bahwa Totti hanya mampu membawa Gialorossi meraih satu titel Scudetto saja membuat eks pemain Prancis, Christophe Dugarry, tidak memandangnya sebagai sosok legenda. Seorang legenda dalam deskripsinya adalah yang tidak hanya setia pada satu klub, tapi juga menghadirkan banyak gelar bergengsi, dan Totti tidak mampu melakukan itu meski mencetak banyak gol.

“Saya tidak bisa menempatkan Totti dalam barisan pemain legenda. Jika dia adalah pemain yang hebat, maka Roma akan memenangkan lebih dari satu gelar. Seorang legenda memiliki gelar lebih banyak dari itu,”

“Benar, kita sedang membahas pemain bagus di sebuah klub. Dia punya kisah yang romantis, tapi, meskipun dia mencetak banyak gol saya tidak bisa menempatkan dia sebagai pemain terbaik,” ucap Dugarry. dikutip dari RMC.

Lebih lanjut, Christophe Dugarry juga menyoroti peranan Totti dalam kesuksesan Tim Nasional Italia memenangkan turnamen Piala Dunia tahun 2006 silam. Menurutnya, Sang maestro bukanlah sosok yang memegang peranan besar dalam keberhasilan Gli Azzurri itu.

“Dia memenangkan Piala Dunia, memang benar, tapi dia bukan seorang protagonis, dia tidak banyak bermain saat itu. Dia tidak pernah menjadi pemain yang sempurna,” tandas Dugarry.

Legenda Inggris Pertanyakan Keputusan Arsenal Pertahankan Wenger

Legenda sepakbola Inggris yang kini bekerja sebagai pandit sepakbola, Gary Lineker, mempertanyakan keputusan Arsenal untuk mempertahankan manajer mereka, Arsene Wenger. Memang, menurut laporan yang terdengar, Klub London Utara sepakat untuk mempertahankan manajer asal Prancis dengan perpanjangan kontrak berdurasi dua tahun.

Seperti diketahui, desas desus pemecatan Wenger dari Kursi pelatih Arsenal memang sudah menguap sejak beberapa waktu lalu. Alasanya tak lain adalah serangkaian hasil buruk yang didapat klub sepanjang kampanye musim 2016/17 kemarin. Yang pertama, kekalahan telak dari Bayern Munchen di dua leg babak 16 besar Liga Champions Eropa, sebagaimana Arsenal tersingkir dengan total Agregat 10-2.

Kekalahan itu memperpanjang rekor buruk The Gunners, yang faktanya selalu tersingkir di babak yang sama pada tujuh edisi terakhir Liga Champions Eropa. Selain itu, mereka juga gagal finish di empat besar klasemen Premier League yang membuat klub dipastikan absen pada ajang Liga Champions Eropa musim depan.

Para fans Arsenal juga merasa kecewa, karena untuk pertama kali sejak tahun 1995 silam, The Gunners harus finish dibawah rival sekota mereka, Tottenham Hotspur yang sukses mengakhiri musim sebagai runner up. Namun, trofi Piala FA yang diraih Arsenal usai mengalahkan Chelsea di Final akhir pekan kemarin membuat posisi Wenger di Kursi manajer kembali normal.

Ya, Para Petinggi klub dipercaya sudah puas dengan persembahan trofi Piala FA yang diberikan Wenger, dan diyakini sudah sepakat untuk memperpanjang kontrak pelatih asal Prancis dengan durasi dua tahun ke depan. Keputusan inilah yang kemudian dipertanyakan oleh Legenda Sepakbola Inggris, Garry Lineker.

“Arsenal sudah tertinggal lebih jauh dari yang dipikirkan Arsene Wenger. Jika anda tanya saya sekarang apakah Arsenal akan finish empat besar musim depan, saya akan bilang mungkin tidak. Wenger masih menjuarai Piala FA dan hingga musim ini dia selalu masuk empat besar, namun sekarang itu berubah.”

“Saya hanya berharap jika dan ketika ia memutuskan untuk pergi, dia sendiri yang akan melakukannya karena saya tidak ingin semua orang merasa buruk tentang dia. Namun saya kira dia akan tetap bertahan, kita lihat saja apa yang terjadi.” Demikian kata Lineker sebagaimana dilansir BBC Sports.

Manchester United Bukan Lagi Tim Yang Menakutkan

Kendati berhasil memenangkan trofi Liga Europa, Piala Liga dan FA Community Shield sepanjang kampanye musim 2016/17 kemarin, Manchester United dinilai bukan lagi tim yang sama, tim yang menakutkan sebagaimana orang-orang melihat mereka di Era Sir Alex Ferguson dulu.

Memang harus dikatakan bahwa semenjak ditinggal sang manajer Legendaris pada tahun 2013 silam sampai sekarang, Setan merah tak cukup bagus untuk bersaing, baik di pentas domestik maupun di pentas Eropa. Sudah tiga kali pelatih baru masuk untuk menukangi Rooney cs, dimulai dari David Moyes, Louis Van Gaal, dan sekarang, Jose Mourinho. Di Piala Dunia 2018 Mulai Bersiap Lagi

Dibawah arahan manajer Asal Portugal, Manchester United memang berhasil memenangi tiga trofi, dimulai dari FA Community Shield usai mengalahkan Leicester City, kemudian trofi Piala Liga setelah menaklukan Southampton pada partai final, dan terakhir Trofi Liga Europa yang dimenangkan United usai kalahkan ajax Amsterdam di partai final.

Trofi terakhir sendiri sekaligus memastikan tempat di fase Group Liga Champions Eropa musim depan bagi Setan Merah. Prestasi ini terbilang lebih baik dibanding tiga musim sebelumnya, tapi yang jadi sorotan adalah gaya bermain Setan Merah yang dianggap tidak lagi menarik.

Bahkan jika dibandingkan dengan Era Sir Alex Ferguson, Legenda Liverpool, Emily Heskey, menilai bahwa United saat ini sangat buruk, mereka tidak mendominasi pertandingan, dan justru sangat berhati-hati ketika menyerang. Sehingga, Legenda the Reds menilai bahwa United tidak lagi menakutkan.

“Mereka finis keenam di Liga Primer. Apakah itu sebuah kesuksesan? Ini benar-benar tidak sukses, Memenangkan Liga Europa adalah sebuah kesuksesa, tapi di Liga? Tidak. Saya pikir perasaan mereka campur aduk. ”

“Ini bukan United yang pernah saya lawan, yang mendominasi dan menakutkan. Mereka tidak memiliki ancaman itu lagi. Ketika Anda pergi ke Old Trafford, Anda takut apa yang akan terjadi. Sekarang, orang tidak takut lagi. Jadi mereka perlu mengembalikan rasa takut tersebut.” ujarnya.

Sergio Ramos Tak Berani Lakukan Panenka ke Gawang Buffon

Jika memang adu penalti harus dilakukan demi menentukan siapa yang layak menjadi juara liga Champions Eropa musim ini, bagaimana persiapan Kapten Real Madrid, sergio Ramos ? Improvisasi akan dia lakukuan, tapi yang kelas Bek timnas Spanyol itu sama sekali tidak berani untuk melakukan teknik panenka ke gawang Gigi Buffon.

Sebagaimana diketahui, tahun lalu Real Madrid memenangi trofi Liga Champions Eropa ke-11 dalam sejarah klub dengan memenangi drama adu penalti melawan rival sekotanya, Atletico Madrid. Sedangkan, skuat arahan Diego Simeone memiliki gaya bermain yang kurang lebih sama dengan Juventus saat ini, mengandalkan lini pertahanan yang rapat dan serangan balik cepat nan terorganisir.

Sehingga tidak mengejutkan jika Kemungkinan terciptanya babak adu penalti di babak final Liga Champions Eropa nanti selalu ada. Jelas, para pemain kedua tim akan mengasah kemampuan mereka dalam melakukan eksekusi, tidak terkecuali kapten Real Madrid, Sergio Ramos, yang memang dikenal sebagai salah satu eksekutor andalan Los Blancos.

Terkait hal ini, Ramos mengakui akan melakukan Improvisasi pada adu penalti nanti, tapi tidak dengan teknik Panenka, karena menurutnya, penjaga gawang Juventus, Gianluigi Buffon, akan dengan sangat mudah menghadang teknik penalti panenka, mengingat pengalaman segudang yang dimiliki sosok berusia 39 tahun tersebut.

“Jika ada adu penalti, pastinya saya akan melakukan improvisasi, karena teknik panenka melawan kiper seperti Buffon tentu tidak masuk dalam rencana,” kata Ramos dikutip dari Marca.

Adapun, partai Finalnya sendiri akan digelar di Cardiff Stadium, Wales, pada minggu mendatang, 4 Juni 2017 WIB. Jika berhasil memenangi partai tersebut, maka Real madrid secara otomatis menjadi tim pertama dalam sejarah yang memenangi dua edisi Liga champions Eropa secara beruntun.

Sedangkan, bagi Juventus, trofi Liga Champions Eropa akan menggenapi prestasi mereka musim ini menjadi treble winner pertama dalam sejarah klub usai sebelumnya sukses menggondol trofi Scudetto dan Coppa Italia.